Saat Seorang Muslim Menginjak Akil Baligh
"Barang siapa yang memberi kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Allah akan mengharamkan api Neraka baginya." (HR. Bukhari) "Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus." (Qs.Maryam, [19:36]
Islam yang benar adalah Islam sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka menerima Islam dengan pemahaman yang benar, keyakinan yang kokoh, dan pengorbanan yang besar. Kisah keislaman para sahabat menjadi ukuran bagi umat Islam, karena mereka adalah generasi terbaik yang dididik langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman:
"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya."
(QS. At-Taubah: 100)
Berikut beberapa kisah keislaman para sahabat sebagai contoh nyata bagaimana cara berislam yang benar.
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan pria dewasa. Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan dakwah Islam kepadanya, tanpa ragu ia langsung beriman dan menerima Islam sepenuhnya.
Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah aku menawarkan Islam kepada seseorang, kecuali dia selalu ragu dan berpikir dahulu, kecuali Abu Bakar. Ketika aku mengajaknya, dia tidak ragu sedikit pun." (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 4407, dishahihkan Al-Albani)
Umar bin Khattab awalnya sangat membenci Islam, tetapi setelah membaca ayat Al-Qur'an, hatinya terbuka dan ia masuk Islam dengan penuh keyakinan. Setelah berislam, Umar langsung meninggalkan sistem jahiliyah dan membela Islam dengan tegas.
Dalil:
"Ya Allah, muliakan Islam dengan salah satu dari dua Umar: Umar bin Khattab atau Abu Jahal." (HR. At-Tirmidzi no. 3683, hasan shahih)
Saat hijrah, Umar tidak bersembunyi seperti sahabat lain. Ia mengumumkan keislamannya secara terbuka dan menantang siapa pun yang ingin menghalangi hijrahnya.
"Barang siapa yang ingin istrinya menjadi janda dan anaknya menjadi yatim, maka hadanglah aku di balik lembah ini." (HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 44/51, sanadnya hasan)
Bilal bin Rabah adalah budak yang masuk Islam di bawah tekanan berat. Ketika tuannya menyiksanya agar kembali kepada kekufuran, Bilal tetap teguh dengan ucapan “Ahad… Ahad…” (Allah itu satu).
Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Bilal:
"Wahai Bilal, amal apa yang paling engkau harapkan di Islam? Karena aku mendengar suara sandalmu di surga." (HR. Bukhari no. 1149, Muslim no. 2458)
Keteguhan Bilal dalam memegang tauhid menjadikannya sahabat yang dijamin masuk surga.
Salman Al-Farisi adalah seorang pencari kebenaran. Ia berasal dari Persia dan pernah menjadi penganut Majusi, kemudian pindah ke Nasrani, dan akhirnya masuk Islam setelah bertemu Rasulullah ﷺ.
Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Salman adalah bagian dari keluargaku." (HR. Ibnu Majah no. 3716, dishahihkan Al-Albani)
Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam pada usia muda. Ibunya menentang keras keislamannya dan mogok makan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Namun, Sa’ad tetap teguh dalam Islam.
Dalil:
"Jika mereka (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu menaati mereka." (QS. Luqman: 15)
Dari kisah-kisah di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bagaimana cara berislam yang benar:
Allah telah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an:
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110)
Oleh karena itu, jika ingin berislam dengan benar, kita harus mengikuti cara berislamnya para sahabat. Mereka menerima Islam sepenuhnya, menegakkan tauhid, meninggalkan sistem kufur, dan berjuang demi Islam.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan yang mengikuti jalan para sahabat dengan baik. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar